
Setelah itu segera ia meloncat dan melarikan diri seperti terbang di gelap malam.
“Bapak…!” teriak Bagus Handaka.
Manahan memandang anak itu dengan wajah yang dingin pula.
Sambil berdiri perlahan-lahan Bagus Handaka mendekati gurunya sambil berkata pula, “Kenapa
Bapak membiarkan orang itu pergi? Selama ini aku ingin menangkap salah
seorang diantaranya. Dengan hadirnya Bapak di sini aku mengharap bahwa
aku akan dapat mengetahui alasan mereka menyerang aku. Tetapi Bapak
membiarkan orang itu pergi.”
“Bagus Handaka,” kata Manahan tidak menjawab pertanyaan anak itu. “Bagaimana keadaan tubuhmu?”
“Sakit, Bapak,” jawabnya agak jengkel. “Tetapi bagaimana dengan orang tadi?”
“Kau sudah dapat bergerak kembali?” sambung Manahan tanpa menghiraukan kata-kata Bagus Handaka.
“Sudah, Bapak…” jawab Handaka masih belum mengerti.
“Bagus…. Bersiaplah. Aku adalah orang ketujuh yang akan menangkapmu,” kata Manahan tiba-tiba.
“Bapak… apakah artinya ini?” tanya Handaka semakin bingung.
“Aku adalah orang ketujuh yang akan
menangkap kau dan akan menyerahkan kau kepada orang yang menyuruh mereka
datang berturut-turut selama enam malam. Aku sekarang sudah tahu,
siapakah orang yang berdiri di belakang mereka. Dan aku juga ingin
menerima hadiah itu supaya aku dapat kaya-raya seperti Demang Gunung
Kidul. Jelas?”
Handaka mendengar kata-kata gurunya
seperti orang bermimpi. Tetapi tiba-tiba ia melihat gurunya benar-benar
bersiap untuk menyerangnya. Sehingga ia menjadi bertambah bingung.
“Handaka…” kata Manahan kemudian, “Terserahlah
padamu, apakah kau masih ingin hidup atau tidak. Aku tidak mempunyai
kepentingan dengan kau lagi. Kau harus melawan aku. Kalau tidak, aku
akan membawamu hidup-hidup. Kalau kau mau melawan, aku beri kau
keringanan. Aku akan membawa kau setelah kau aku binasakan, supaya kau
tidak menjadi bahan pertunjukan.”
Agaknya
Handaka sadar bahwa ia tidak bermimpi. Ia harus memilih dua hal yang
sama-sama tak dikehendaki. Karena itu ia menjadi bingung sekali. Tetapi
ia tidak sempat berpikir-pikir lebih lanjut. Sebab tiba-tiba gurunya
telah melangkah dan menghantam lambung. Maka dengan gerak naluriah
Handaka menghindarkan diri. Dengan kekuatan yang ada padanya ia
melenting tinggi dan kemudian jatuh berguling-guling menjauhi gurunya.
Tetapi Manahan mengejar terus sambil melepaskan serangan-serangan yang
sangat berbahaya dan bersungguh-sungguh. Ia memang pernah berlatih
dengan gurunya seperti ia harus berkelahi sungguh sungguh, namun terasa
bahwa selama itu gurunya selalu menyesuaikan diri dengan gerak-geraknya.
Tetapi kali ini Manahan benar-benar telah menyerangnya dengan
pukulan-pukulan yang dapat membinasakan.
Karena itu, Bagus Handaka menjadi
benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan kecuali meloncat-loncat
berlari, berguling dan cara-cara lain untuk menghindari
serangan-serangan Manahan. Namun demikian Manahan menyerang terus
seperti orang kehilangan akal.
Tetapi kemudian muncullah suatu pikiran
yang agak jernih dalam otak Bagus Handaka. Tiba-tiba ia merasa bahwa
saat ini adalah saat terakhir baginya untuk menunjukkan kepada gurunya,
ketekunan serta kesungguhannya selama ini dalam menerima segala ilmu
serta pelajarannya.
Ia sudah pasti, bahwa kalau benar-benar
gurunya akan membunuhnya, maka saat terakhir ini akan dipergunakan
sebaik-baiknya. Ia harus dapat menunjukkan kepada gurunya hasil-hasil
yang telah dicapainya dalam olah kanuragan.
Meskipun Handaka menjadi semakin tidak
mengerti kepada sifat-sifat gurunya, karena ketakutan-ketakutannya yang
kadang-kadang aneh, misalnya beberapa tahun yang lalu, tiba-tiba saja ia
ditinggal berlari jauh sekali sampai ia merasa bahwa tidak akan mungkin
dapat menemukannya, tetapi tiba-tiba gurunya itu, yang pada saat itu
bernama Mahesa Jenar datang kembali kepadanya, yang kemudian untuk
beberapa tahun melatihnya dengan tekun. Sekarang tiba-tiba gurunya itu
berbuat keanehan lagi. Tetapi agaknya kali ini gurunya tidak lagi
bermain-main. Sebab apabila ia lengah, maka pastilah nyawanya akan
melayang.
Namun demikian, apabila hal itu sudah
dikehendaki oleh gurunya, maka yang dapat dilakukan adalah menyenangkan
hati gurunya pada saat terakhir itu. Ia harus menunjukkan kepada gurunya
hasil pelajaran yang diterimanya selama ini dengan sebaik-baiknya.
Dengan demikian ia akan dapat membesarkan hati gurunya itu yang telah
berjerih payah mendidiknya.
Mendapat pikiran yang demikian, maka
tiba-tiba Bagus Handaka merasa seolah-olah telah menerima segala
kekuatannya kembali. Seolah-olah badannya merasa bertambah segar dan
sehat. Tanpa mengenal ketakutan atas kematian yang bakal datang, Handaka
kemudian bergerak dengan cepat seperti seorang anak-anak yang
menari-nari riang menjelang ayahnya pulang dari rantau.
Dengan demikian maka ia telah berbuat sebaik-baiknya untuk melawan gurunya yang sangat disegani serta dicintainya itu.
Maka, pertempuran itu segera berjalan
semakin cepat. Bagus Handaka telah berusaha untuk mengurangi tekanan
Manahan dengan menyerangnya pula berkali-kali. Ia tiba-tiba saja merasa
bahwa ia telah dapat melayani gurunya jauh lebih baik daripada saat-saat
yang lampau. Dengan tangkasnya ia menyerang, melenting, kemudian
melingkar di udara kalau kebetulan ia terlempar oleh pukulan-pukulan
gurunya yang dahsyat. Ia sudah berusaha sebaik-baiknya.
Dalam keadaan yang demikian, setitik pun
tak ada maksud Handaka untuk mencoba menyelamatkan dirinya. Sebab adalah
tidak mungkin sama sekali baginya berbuat demikian. Jadi yang dilakukan
itu adalah benar-benar suatu pernyataan kebaktian seorang murid
terhadap gurunya. Sebab bagaimanapun, Manahan adalah gurunya.
Manahan adalah seorang yang perkasa, yang
pernah menjabat sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja. Karena
itu kemampuannya pun luar biasa. Apalagi sebenarnya tenaga Bagus Handaka
telah berada jauh di bawah kekuatannya, karena sebelumnya ia sudah
harus bertempur mati-matian melawan seorang yang berwajah seperti hantu.
Daya perlawanan Bagus Handaka pun segera
tampak surut. Dengan demikian maka serangan-serangan Manahan pun semakin
banyak mengenai tubuhnya.
Meskipun demikian, Bagus Handaka sama
sekali tidak mengeluh. Dengan tenaganya yang semakin lama semakin lemah
itu ia tetap melawan sedapat-dapatnya.
Tetapi apa yang dapat dilakukannya adalah
tidak seberapa lama. Sebuah serangan Manahan yang dahsyat datang
mengarah ke lambungnya. Dengan tenaga yang masih ada padanya, Bagus
Handaka mencoba menghindari serangan itu dengan memiringkan tubuhnya,
tetapi ia tidak berhasil. Dengan kerasnya ia terlempar beberapa langkah
dan kemudian jatuh terbanting. Yang dapat dilakukannya hanyalah mencoba
menyelamatkan tubuhnya dengan berusaha menjatuhkan diri sebaik-baiknya.
Dan apa yang diusahakan itu sebagian dapat berhasil. Namun setelah itu,
kembali seluruh tulang-tulangnya terasa telah terlepas. Tubuhnya menjadi
lemas dan darahnya seolah-olah tidak mengalir lagi. Bagaimanapun ia
berusaha namun ia sudah tidak mampu lagi menggerakkan bagian-bagian dari
tubuhnya. Meskipun demikian, Bagus Handaka tetap tidak mengeluh sama
sekali. Dengan dada menengadah ia menanti apapun yang bakal terjadi.
Sekilas dilihatnya langit yang biru gelap ditaburi bintang-bintang
seperti jutaan lampu yang tergantung jauh sekali di udara, dengan
sinarnya, yang berkedip-kedip mengelilingi bintang raksasa Bima Sakti
yang melintang ke utara.
Kemudian dilihatnya gurunya, yang
diakunya sebagai ayahnya setelah ayahnya yang sebenarnya pergi
meninggalkannya, berjalan mendekatinya. Dan Bagus Handaka telah siap
menerima apapun yang akan dilakukan oleh gurunya itu, meskipun untuk
sesaat terlintas pula wajah-wajah ayahnya Gajah Sora. Ibunya, serta
wajah-wajah yang pernah dikenalnya. Wajah-wajah bengis yang pernah akan
membunuhnya pada saat ia ditolong oleh seorang yang menamakan dirinya
Sarayuda, serta wajah keenam orang yang datang berturut-turut
menyerangnya. Dan sekarang yang berada di depannya adalah gurunya,
Manahan yang sebenarnya dikenalnya dengan nama Mahesa Jenar, yang
menyatakan dirinya sebagai orang yang ketujuh.
Dengan sekuat tenaga perasaannya, Bagus
Handaka mencoba melenyapkan semua bayangan yang berturut-turut datang
mengganggu otaknya. Dipusatkannya pikirannya untuk menghadapi apapun
yang bakal terjadi, dengan tabahnya.
Dan tiba-tiba dirasanya tangan gurunya
itu meraba-raba tubuhnya. Memijat-mijat tangannya dan kemudian dengan
suara yang rendah berkata, “Tidakkah kau dapat bergerak lagi Handaka?”
Dengan mata yang cerah, Bagus Handaka memandangi wajah gurunya. Jawabnya, “Aku sudah berusaha sebaik-baiknya, Bapak.”
Kemudian tampaklah Manahan merenungi anak
itu. Alisnya yang lebat bergerak-gerak karena kerut-kerut di keningnya.
Seolah-olah ia sedang menghitung setiap titik di permukaan tubuh
muridnya. Sesaat kemudian terdengarlah Manahan menarik nafas dalam-dalam
serta mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu terdengar ia bertanya kembali, “Adakah dengan cara demikian kau melawan orang-orang yang menyerangmu enam malam berturut-turut?”
Bagus Handaka tidak segera mengerti
maksud pertanyaan gurunya. Karena untuk beberapa saat ia tidak menjawab,
terdengar kembali Manahan berkata, “Ingat-ingatlah apa yang telah kau lakukan selama enam malam berturut-turut.”
Bagus Handaka semakin tidak mengerti. Tetapi ia menjawab juga, “Bapak,
selama itu aku pun telah berusaha sebaik-baiknya melawan mereka. Bahkan
aku sudah mencoba untuk menangkap salah seorang diantaranya. Tetapi aku
tidak berhasil.”
Sekali lagi Manahan mengangguk-anggukkan
kepalanya, sedangkan Bagus Handaka menjadi bertambah bingung. Apalagi
ketika kemudian dilihatkan gurunya tersenyum sambil membangunkannya. “Duduklah Handaka. Dan cobalah menggerak-gerakkan tubuhmu perlahan-lahan.” Dengan
otak yang dipenuhi oleh berbagai pertanyaan, Bagus Handaka mencoba
sedapat-dapatnya untuk bangun dan kemudian bertahan duduk di atas pasir
pantai. Adakah gurunya menunggu sampai ia mampu untuk melawannya
kembali…?
Tetapi, ternyata Manahan tidak berbuat
demikian. Juga ternyata gurunya itu tidak membunuhnya. Malahan kemudian
gurunya itu duduk pula di sampingnya dan dengan wajah yang jernih
berkata, “Sudahkah kau ingat keenam orang yang menyerangmu?”
Sambil mengangguk, Bagus Handaka menjawab sekenanya saja, “Sudah, Bapak.”
“Baik..”. sahut Manahan,
“Kau pernah berkata kepadaku tentang wajah-wajah dari kelima orang itu,
sedang orang yang keenam telah aku saksikan sendiri. Tetapi kau belum
pernah menceriterakan kepadaku bagaimanakah bentuk tubuh kelima orang
yang menyerangmu itu.”
Untuk sesaat Bagus Handaka jadi
termenung. Memang selama itu ia belum pernah menyebut-nyebut bentuk
tubuh lawan-lawannya. Dan sekarang tiba-tiba gurunya menanyakan hal itu.
Maka dicobanya sekali lagi untuk membayangkan kembali kelima orang itu
berturut-turut.
“Bagaimanakah dengan orang yang pertama?” tanya Manahan.
Dengan masih mencoba mengingat-ingat orang itu Bagus Handaka menjawab, “Orang itu bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.”
“Orang kedua?” desak Manahan.
Dengan mengingat-ingat mengerti
sepenuhnya maksud pertanyaan gurunya, karena itu setelah merenung
beberapa lama ia menjawab hampir berteriak, “Semuanya bertubuh tegap tinggi dan berdada bidang.”
“Lalu bagaimanakah pendapatmu mengenai mereka itu?” tanya Manahan pula.
Bagus Handaka diam menimbang-nimbang. Tetapi kemudian ia berkata, “Itu adalah aneh, Bapak. Tubuh mereka berenam hampir bersamaan. Hanya wajah merekalah yang agaknya berbeda-beda.”
“Kau yakin bahwa wajah mereka berbeda-beda?” desak Manahan.
Mendengar pertanyaan gurunya, tiba-tiba
Handaka menjadi ragu. Memang sepintas lalu, apalagi di dalam gelapnya
malam, wajah-wajah mereka tampak berbeda-beda.
“Sayang, aku tak dapat menangkapnya,” gumam Bagus Handaka.
Terdengarlah Manahan tertawa pendek, lalu katanya, “Inginkah kau menangkapnya?”
“Ya,” jawab Handaka. “Aku ingin tahu kenapa mereka menyerang aku.”
“Dan kenapa aku menjadi orang ketujuh?” tanya Manahan pula.
Bagus Handaka menatap Manahan dengan
pandangan yang aneh. Apa yang terjadi lima malam berturut-turut telah
cukup memusingkan kepalanya. Apalagi malam yang keenam itu. Segalanya
menjadi semakin kabur dan penuh teka-teki.
Melihat Bagus Handaka kebingungan, berkatalah Manahan, “Handaka….
Meskipun aku tidak menyaksikan, namun aku berani meyakinkan bahwa
keenam orang yang menyerangmu berturut-turut itu pasti mempunyai
persamaan bentuk tubuh. Dan ketahuilah Handaka bahwa kau jangan mimpi
untuk dapat menangkapnya.”
Mata Handaka masih memancarkan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Katanya, “Tetapi
orang yang pertama, kedua dan ketiga adalah orang-orang yang belum
memiliki ilmu yang cukup tinggi. Sehingga aku mempunyai kemungkinan yang
besar untuk dapat menangkapnya.”
Mendengar kata-kata itu Manahan tersenyum. Jawabnya, “Meskipun demikian, bukankah ternyata kau tidak mampu menangkapnya?”
Bagus Handaka mengangguk mengiyakan.
“Jangankan kau Handaka,” sambung Manahan, “Sedang aku pun tidak berani bermimpi untuk dapat menangkapnya.”
Mendengar perkataan itu Handaka terkejut
bukan main, sampai ia tergeser ke samping. Matanya semakin membayangkan
kebingungan yang memenuhi hatinya.
“Handaka…” kata Manahan seterusnya dengan perasaan iba, “Sudah sewajarnya kalau kau menjadi bingung karenanya.”
Handaka mendengarkan kata-kata gurunya itu dengan saksama, meskipun sikap gurunya itu tidak kalah membingungkan pula.
“Pertama-tama ketahuilah, bahwa apa
yang aku lakukan, tidaklah benar-benar seperti apa yang aku katakan.
Otakku masih cukup sehat untuk tidak melakukan hal-hal seperti itu.
Sedang apa yang aku lakukan, adalah untuk meyakinkan dugaanku terhadap
keenam orang yang telah menyerangmu enam malam berturut-turut. Dengan
caraku itu aku kemudian yakin siapakah orang-orang yang datang
berturut-turut itu.”
“Guru…” potong Handaka dengan penuh haru, “Jadi Bapak tidak benar-benar mau membunuhku?”
Mendengar pertanyaan Bagus Handaka, Manahan jadi terharu. Jawabnya sambil membelai kepala anak itu, “Kenapa aku akan membunuhmu?”
“Bukankah Bapak sendiri berkata demikian?” jawab Handaka.
“Dan kau telah mencoba mempertahankan dirimu?” tanya Manahan pula.
“Tidak, Bapak…. Aku sama sekali tidak
berusaha untuk menyelamatkan diri, tetapi aku hanya bermaksud untuk
menunjukkan hasil pelajaran-pelajaran yang aku terima selama ini pada
saat-saat terakhir.”
Diam-diam Manahan memuji di dalam hati.
Benar-benar anak ini berhati bersih dan setia. Karena itu Manahan
menjadi semakin terharu. Namun demikian ia berusaha agar wajahnya sama
sekali tidak membayangkan perasaannya.
“Handaka…” kata Manahan kemudian, “Baiklah aku beritahukan dugaanku atas semua kejadian-kejadian yang berlaku itu, supaya kau tidak terlalu lama menebak.”
Handaka menjadi sangat tertarik. Karena itu ia menggeser duduknya semakin dekat dengan gurunya.
“Handaka….” Manahan melanjutkan, “Mengucapkan
syukur atas semua peristiwa yang berlaku enam malam berturut-turut.
Meskipun barangkali untuk dua-tiga hari tubuhmu akan masih terasa
sakit-sakit, namun setelah itu kau akan berbangga karenanya.”
“Apakah yang dapat aku banggakan Bapak?” tanya Handaka.
Manahan tersenyum, lalu jawabnya, “Aku
telah mencoba untuk memancingmu dalam suatu perkelahian. Apapun
alasanmu tetapi kau telah berbuat sebaik-baiknya. Sedang apa yang kau
lakukan sebagian adalah bukan hasil pelajaran yang aku berikan.”
“Bapak…” potong Handaka, “Kenapa kau berbuat demikian. Aku tidak pernah belajar kepada siapapun kecuali kepada Bapak.”
Kembali Manahan tersenyum. Katanya, “Meskipun
andaikata unsur-unsur itu tidak kau miliki sekarang, kemudian aku pun
akan memberikannya pula. Tetapi kemajuan yang kau capai selama lima hari
akan sama dengan kemajuan yang akan kau capai dalam waktu
berbulan-bulan apabila hal itu kau pelajari dariku, serta dalam keadaan
yang biasa.”
Masih saja Handaka belum mengerti maksud gurunya. Sehingga kemudian Manahan berkata pula, “Handaka…, menurut dugaanku orang yang datang enam malam berturut-turut itu adalah orang yang sama.”
“Orang yang sama?” tanya Handaka keheran-heranan.
“Ya,” jawab Manahan. Orang itu
hanya mengubah mukanya sedikit dengan menggores-goreskan warna-warna
hitam dan kadang-kadang memasang kumis dan janggut palsu.
“Tetapi tingkat kepandaiannya sama sekali tidak sama, Bapak,” potong Handaka.
Sekali lagi Manahan tersenyum. Jawabnya, “Itulah
sebabnya kepandaianmu meningkat dengan wajar, meskipun waktunya
dipercepat. Dan ketahuilah bahwa yang dapat berbuat demikian hanyalah
orang-orang sakti yang berilmu mumpuni.”
Handaka menjadi termenung karenanya.
“Jadi apakah maksudnya menyerangku…?
Dan kenapa dikatakannya bahwa orang-orang itu akan menangkap aku untuk
sebuah pertunjukan pembunuhan…?” tanya Handaka.
“Satu-satunya cara untuk memaksamu bekerja sekeras-kerasnya adalah menakut-nakutimu dengan cara demikian,” jawab Manahan.
Bagus Handaka menarik nafas dalam-dalam.
Mengertilah ia sekarang bahwa orang yang datang setiap malam itu sama
sekali tidak akan membunuhnya seperti gurunya itu pula.
“Adakah Bapak mengenal orang yang datang setiap malam itu?” tanya Handaka kemudian.
No comments:
Write comments